30 Hari Lalu

19Nov09

Aku akan bercerita kembali, melanjutkan posting sebelumnya ya. Saat itu sudah lebih dari seminggu aku berada di Cinere. Rumah 2 lantai yang tidak terlalu terawat ini dijaga oleh seorang bapak yang bernama Joko. Aku tak pernah tanya siapa nama lengkapnya. Yang semakin membuatku bingung saat ia bercerita kalau rumah ini bukan rumahku atau keluargaku. Rumah ini dikontrak oleh seorang ibu muda dari Bogor. Si ibu hanya berkata kalau aku akan datang dan mendiami rumah ini sampai jangka waktu yang tak ditentukan.

Ah, aku tambah bingung. Siapa pula ibu muda ini? Pak Joko hanya bilang kalau namanya adalah Bu Hanny, tanpa tahu nama lengkap ataupun alamat rumahnya di Bogor. Ia hanya diminta menjaga dan merawat rumah, menyiapkan masakan, selama aku berada di rumah ini.

Aku pusing. Pusing karena ya kepalaku masih sedikit sakit. Pusing karena memikirkan misteri ini. Aku pun masih tak ingat apa-apa selain kejadian seminggu sebelumnya saat aku terdampar di lorong gelap itu. Selama lebih dari seminggu aku hanya berbaring di tempat tidur sederhana. Ada semacam televisi di kamarku, meski aku merasa aneh melihat bentuknya. Rasanya aku pernah melihat tampilan seperti ini, tapi entah kenapa saat aku melihat televisi ini, aku merasa kuno sekali. Aku habiskan waktu (kayak ada pekerjaan lain saja) untuk mengumpulkan informasi yang ditayangkan televisi, sambil berharap ada info yang bisa mengembalikan memoriku kembali.

Rumah ini sederhana, dengan perawatan seadanya, kecuali salah satu kamar di lantai 2. Ruangan ini tertutup rapat, bersih sekali, dan sejuk oleh AC. Di ruangan ini terdapat satu set komputer dan sebuah notebook. Meski memoriku masih berbayang, entah kenapa saat aku menyalakan komputer dan notebook, jari-jariku refleks mengetik di keyboard dan menggerakan mouse. Seperti aku melihat televisi, hal serupa pun aku rasakan saat berada di depan komputer. Aku dengan cepat bisa mempelajari beberapa menu di sana, hanya saja perasaan kuno itu kembali muncul. Entah kenapa, kalau aku merasa baik komputer, notebook, ataupun televisi di kamarku, terasa ketinggalan zaman.

Baik komputer dan notebook telah terhubung dengan koneksi internet. Kembali lagi aku merasa aneh. Koneksi untuk membuka halaman sebuah situs terasa lambat. Tampilannya pun tidak terlalu familiar. Perasaan kuno ini kembali muncul. Setelah sekitar 1 jam aku membiasakan diri di depan komputer, aku mulai mencoba mencari-cari berita harian. Intinya sih, aku ingin tahu beragam informasi, sambil berharap ada yang bisa memicu memoriku kembali.

Selama hampir 2 minggu aku tak keluar rumah. Aku membaca dan menyerap informasi saja. Sambil sesekali berbaring, karena rasa pusing masih suka muncul. Kadang hilang, kadang datang menyerang dengan rasa sakit.

Nah, posting berikutnya akan aku lanjutkan tentang memori yang aku ingat pertama kali. Nanti aku ceritakan lagi. Sekarang ada sesuatu yang harus aku urus dahulu.

Iklan

6 Minggu Lalu

17Nov09

Hari ini adalah hari kedua aku menulis di jurnal blog ini. Mumpung senut-senut di kepalaku sudah sedikit hilang, aku akan ceritakan lebih detil tentang kejadian yang menimpaku 6 minggu terakhir.

Memori yang terakhir aku ingat jelas adalah saat aku mendapatkan diriku sadar dari (sepertinya) pingsan dan seluruh pakaianku basah. Saat itu aku terbangun di sebuah lorong gelap dengan rintik-rintik air menghujani punggungku. Kepalaku terasa pusing sekali. Perutku pun mual. Aku lalu mencoba duduk di tengah kegelapan.

Tak berapa lama barulah aku sadar kalau aku mendengar suara keramaian di kejauhan. Sambil menahan sakit di kepala dan perut, aku pun berdiri. Aku lalu mencoba berjalan ke arah keramaian. Baru aku sadar kalau kedua kakiku pun terasa lemas. Beberapa kali aku terjatuh menahan lemasnya kaki. Akhirnya aku mencoba bersandar di dinding terdekat, dan berpengangan menyusuri dinding ke arah suara keramaian.

Suara semakin terdengar keras. Cahaya pun mulai terlihat. Aku keluar dari lorong dan samar-samar aku melihat banyak kilauan lampu. Ternyata pandangan mataku saat itu masih buram. Lama aku membiasakan mataku hingga terbiasa dengan kilauan lampu di kegelapan malam di kejauhan. Sampai akhirnya pandanganku semakin jelas, dan..

Saat itu aku menjadi semakin bingung. Aku menjerit di dalam hati, “HAH, DI MANAKAH AKU INI?”

Aku tidak familiar sama sekali dengan tempat ini. Kendaraan sangat padat melintas di jalan raya. Orang-orang berjualan di gubuk-gubuk tua. Aku mencoba melihat gedung apa yang dari tadi dindingnya aku sandari. “Pasar Mampang” tertera di bagian atas gedung. Aku sama sekali tak mengenal daerah ini. Entah suasananya kenapa, tak biasa, tak seperti yang pernah aku alami sebelumnya.

Oh, kepalaku masih sakit saat itu, dan aku baru tersadar kalau aku tak ingat apa-apa. Aku tak ingat dari mana aku dan bagaimana aku bisa sampai di sini. Astaga, saat itupun aku baru sadar, kalau aku sendiri tak ingat akan namaku.

Entah karena refleks, aku merogoh saku belakang kanan celanaku, mencari dompet. Ada. Segera aku keluarkan dan kubuka. Di dompet ada tumpukan uang, kartu-kartu, dan kumpulan kertas usang. Kuambil salah satu kartu berwarna biru dengan tulisan Kartu Tanda Penduduk. Ada fotoku. Lalu aku cek nama yang tertera di kartu, “Anil Keoni Devdan.”

Baik, jadi namaku (mungkin) adalah Anil. Alamat yang tertera di kartu adalah, “Jl. Enggano no 15, Cinere, Depok.” Mungkin ini alamat hunianku? Aku saat itu benar-benar bingung. Tak tahu harus bertanya ke siapa.

Akhirnya saat itu kuputuskan untuk mendekati kendaraan yang berlalu lalang. Masih dengan terhuyung-huyung, aku akhirnya sampai di tepian jalan raya. Rintikan hujan sudah tak terasa lagi. Semua indraku seperti terfokus untuk memperhatikan segala hal yang tidak familiar. Aku melihat beberapa kendaraan dengan tulisan “Taksi” di atasnya. Entah kenapa, ada sesuatu yang familiar dengan kata tersebut. Aku mencoba memanggil salah satu “Taksi” tersebut. Kendaraan berwarna biru mendekat, dan aku pun masuk.

Si supir sempat melihat aneh diriku yang bertampang lusuh dan basah. Aku hanya bisa menunjukkan alamat di kartuku. Si supir sepertinya paham, dan ia mengangguk. Kendaran pun melaju. Aku tak kuasa menahan pusing dan sakit di perutku, sehingga aku memutuskan untuk memejamkan mata.

Sepertinya aku terlelap sampai si supir membangunkanku. Ia berucap kalau kami sudah sampai di tujuan. Ia menunjukkan angka digital di sebelah kirinya. Oh, ini pasti ongkosnya, pikirku. Aku membuka dompet, dan menelusuri tumpukan uang di dalamnya. Aku mengeluarkan tiga lembar berangka 50.000 dan memberikannya ke si supir. Setelah ia mengembalikan dengan tiga lembaran 10.000, aku pun melangkah ke luar.

Hujan sudah reda. Aku ingat saat itu aku masih mencium bau tanah yang segar. Sesuatu yang entah kenapa membuat diriku berasa nyaman. Kendaraan “taksi” itu pun melaju pergi meninggalkanku.

Aku mendapati diriku di depan sebuah rumah, berpagar coklat usang. Posisi rumah agak naik, sekitar 2 meter dari ketinggian jalan. Persis di depan rumah, terlihat pertokoan yang kini sudah tutup. Aku mengetuk-ngetuk pagar rumah, tapi lama kutunggu, tak ada yang membukakan. Sampai akhirnya kuputuskan untuk membukanya sendiri. Tidak terkunci.

Aku berjalan menuju teras depan, mendekati pintu masuk rumah. Aku kembali mengetuk-ngetuk, namun lama sekali kutunggu, tak ada pula yang membukakan. Aku terduduk di teras, menunggu. Oh, perut dan kepala saat itu masih sakit bukan kepalang. Tak kuasa menahan sakit, akhirnya aku pun memutuskan untuk membaringkan diriku saja di teras rumah.

Sepertinya aku kembali tertidur, sehingga saat aku membuka mata, cahaya matahari sudah menerangi wajahku.

Aku lanjutkan cerita ini besok ya. Ada sesuatu yang harus kukerjakan lagi hari ini.


Prologue

16Nov09

Hai. Perkenalkan, namaku Anil Keoni Devdan. Gampangnya, panggil aku Anil saja. Sebelum aku cerita lebih banyak, mungkin lebih enak kalau aku sedikit bercerita tentang latar belakangku ya?

Sebenarnya tak banyak yang bisa kuingat dari masa laluku, karena aku sedikit kehilangan ingatanku sejak 6 minggu terakhir ini. Tak semuanya sih lupa. Aku masih ingat akan skill yang berhubungan dengan komputer dan fotografi. Mungkin karena aku sudah membiasakan menggunakannya sejak kecil. Entahlah, pokoknya skill itu masih kuingat.

Yang bahkan aku sendiri tak ingat adalah namaku sendiri, sampai akhirnya aku mengecek dompet dan menemukan beberapa kartu identitasku di dalamnya. (Mungkin) nama yang tertera di banyak kartu itu adalah namaku. Ada fotoku juga sih di beberapa kartu itu, jadi mudah-mudahan saja benar.

Besok-besok akan kuceritakan lebih banyak lagi deh tentang hal ini. Namun di posting ini, aku hanya ingin berucap salam. Mudah-mudahan teman-teman sesama blogger mau menerimaku. Kepalaku sekarang masih sedikit senut-senut. Aku istirahat dulu ya!