Makanan di Hari Raya

29Nov09

Kalau menurut penanggalan, memang hari Jumat kemarin adalah hari raya Idul Adha. Hari itu dijadikan hari libur nasional Indonesia. Untukku, hari itu tak berbeda dengan hari lainnya. Aku tak kemana-mana. Masih saja berada di rumah atau jalan-jalan di sekitarnya. Pusingku memang sudah mulai hilang, namun aku masih belum berani melangkahkan kaki menjauhi kompleks perumahan di Cinere ini.

Ada sesuatu yang berbeda di hari itu. Pak Joko kedatangan istrinya dari Wonosobo. Namanya Bu Rufini. Rambutnya sudah memutih, namun ia masih tetap terlihat sehat dan bugar. Bu Rufini ini ternyata pandai memasak. Hari itu menjadi hari spesial karena Bu Rufini menyajikan makanan khas hari raya lebaran. Bu Rufini menyebutnya ketupat, opor ayam, dan sambel goreng hati. Entah kenapa disebut dengan kata sambel, kalau tidak ada pedas-pedasnya ya?

Aku sendiri tak ingat apa-apa tentang hari raya ini. Tak membekas sedikitpun tentang kisah yang (mungkin) pernah aku alami di hari raya ini. Aku berterima kasih sekali akan kedatangan Bu Rufini ini. Pak Joko memang lihati kalau urusan perbaikan dan perawatan rumah, tapi kalau urusan masak, bisa kubilang ia sama sekali tak punya bakat. Istrinya bertolak belakang. Bu Rufini sungguh lihai dalam meracik bumbu dan menyajikan makanan.

Di hari sabtu Bu Rufini memasak yang lebih spesial. Karena Pak Joko mendapat jatah potongan daging sapi dan kambing dari mesjid kompleks, maka Bu Rufini lalu memasakkan sate sapi dan sate kambing. Bumbu kecapnya ia buat sendiri. Selain itu, Bu Rufini juga memasakkan telur dadar besar bercampur daging udang. Katanya ini puyunghai, makanan china. Biasanya orang memasaknya dengan daging kepiting, namun karena daging kepiting susah dicari di pasar terdekat, maka Bu Rufini menggantinya dengan udang. Bu Rufini juga membuatkan saus tomat bercampur kacang polong, yang dituangkan ke atas puyunghai. Sungguh luar biasa sedap.

Lalu di hari minggu Bu Rufini menyajikan masakan tradisional. Sayur asem dan teri telur. Pak Joko memang pernah pula memasak sayur asem untukku sebelumnya, tapi tetap saja citra rasanya sangat berbeda. Masakan Bu Rufini terasa lebih pas untuk lidah, sementara kalau sayur asem buatan Pak Joko suka terasa asin atau kadang malah hambar tak berasa.

Wah, menyenangkan seandainya Bu Rufini bisa ada di rumah ini terus. Sayangnya, Bu Rufini harus kembali ke kampungnya di Wonosobo hari Senin pagi esok. Minggu-minggu mendatang, menu makanku akan kembali seperti semula. Resep-resepnya Pak Joko. Hahaha, maaf ya, Pak Joko!

Iklan


One Response to “Makanan di Hari Raya”

  1. waaa..kayaknya enak tuw makanannya.. 😉


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: