Pak Joko

26Nov09

Aku pernah cerita sebelumnya kalau rumah yang kutinggali di Cinere ini selalu dijaga oleh Pak Joko. Bapak berusia 50-an tahun ini menjaga rumah ini seorang diri, sebelum aku datang. Tak banyak yang aku bisa ceritakan, kecuali ia punya seorang istri dan dua orang anak yang ia tinggal di kampung. Di Wonosobo katanya. Aku nggak terlalu paham nama-nama kota di negeri ini. Aku sempat lihat di peta dan Wikipedia kalau ternyata kota Wonosobo itu cukup jauh juga dari Jakarta.

Aku tak bisa bilang Pak Joko seorang yang rajin, tapi setidaknya rumah ini masih terawat dengan baik. Hahaha, meski tetap saja sih, aku perhatikan di beberapa sudut kamar, debu-debu tebal terlihat menumpuk. Aku sebenarnya tak terlalu memperdulikan itu. Lagi pula rumah ini terlalu besar untuk dihuni oleh kami berdua saja. Banyak ruang kosong, yang akhirnya malah menjadi tempat menyimpan barang-barang tak terpakai.

Satu hal yang selalu kuingat adalah kumis Pak Joko yang sudah memutih. Ia sering sekali melinting-lintingnya seakan-akan kumis itu adalah kunci kekuatannya. Oh ya, meskipun beliau sudah tua, jangan ragukan kekuatan fisiknya. Entah apa yang Pak Joko makan sejak kecil, ia bisa mengangkat sofa seberat 10 kilo seperti bantal kapuk saja.

Pak Joko juga bukan orang yang doyan bercakap-cakap. Ia selalu menjawab seperlunya. Terkadang aku sering merasa kesepian, meski aku tahu Pak Joko ada di ruang duduk menonton televisi. Entahlah, aku merasa ada sesuatu yang disembunyikannya. Ia seakan-akan sengaja menutup diri dan menjaga agar tidak terlalu terlibat denganku. Itu perasaanku saja kah?

Selama lebih dari 6 minggu aku berada di rumah ini, aku bersyukur ada orang seperti Pak Joko. Meski tak banyak berbicara, ia selalu tahu kala sakit kepalaku menyerang. Dengan sigap ia selalu menyediakan aspirin dan minuman susu hangat untuk membantuku beristirahat dengan tenang. Pak Joko selalu sedia menjawab (meski sepotong-sepotong) kalau aku kebingungan dalam menggunakan berbagai perangkat di rumah ini. Ia sepertinya memaklumi keberadaanku yang amnesia ini dan tak pernah memaksaku untuk mengingat segala sesuatu (yang jelas-jelas aku lupa).

Oh ya, Pak Joko nggak suka fotonya diambil. Jadi aku edit sedikit foto ini supaya wajah Pak Joko nggak terlihat jelas.

Iklan


No Responses Yet to “Pak Joko”

  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: