Senyuman Masa Lalu

21Nov09

Kemarin aku janji untuk menceritakan memori yang pertama kali kuingat. Ini terjadi sekitar 3 minggu lalu, aku lupa tepatnya hari apa. Aku cuma ingat saat itu untuk pertama kalinya aku berjalan mengelilingi area tempatku tinggal. Selama 3 minggu pertama itu aku memang tidak pernah menapakkan kaki ke luar dari rumah. Seperti aku ceritakan di posting sebelumnya, aku hanya tidur, menonton televisi, dan mempelajari (ulang) hal-hal yang aku rasa sudah aku lupakan.

Jadi saat itu sekitar pukul 10 pagi. Matahari bersinar terik. Aku membuka pagar rumah dan berjalan-jalan menyusuri jalan setapak yang berada sekitar 200 meter dari pertokoan yang berada di depan rumah. Aku terus mengikuti jalan setapak yang lalu membawaku ke sebuah taman. Di sini pohon-pohon dengan daunnya yang hijau memberikan suasana menyegarkan. Aku duduk di salah satu bangku tua di tepi taman. Beberapa ibu terlihat mengobrol di salah satu sudut taman. Tak banyak orang memang.

Aku merasakan sesuatu yang familiar saat itu. Hembusan angin yang mengusik daun pepohonan, burung-burung yang lewat dari puncak pohon ke puncak pohon lainnya. Udara yang bersih. Tidak persis sama, tapi entah ada hal yang mirip dengan yang pernah kurasakan sebelumnya. Aku menyandarkan kepalaku ke sandaran bangku, memejamkan mata, dan tiba-tiba aku ingat sesuatu.

Aku ingat suatu kejadian yang berlangsung singkat. Wajah seorang perempuan. Ia tersenyum manis. Wajahnya sangat menarik. Rambutnya lurus panjang sebahu. Ia mengenakan kaos warna merah muda. Yang paling aku ingat adalah tatapan mata dan caranya tersenyum. Aku merasakan kecerdasan sekaligus perhatian yang tinggi terpancar dari bola matanya yang berwarna coklat muda. Senyumannya entah kenapa, aku suka sekali akan cara bibirnya bertemu, seakan-akan ia adalah orang yang paling ramah dan perhatian yang pernah aku temui.

Namun itu saja yang kuingat. Aku tak tahu di mana perempuan itu. Aku tak ingat siapa namanya. Aku tak ingat apapun selain momen singkat itu. Sakit kepala luar biasa kembali menyerangku setelah itu. Aku pun menguatkan diri untuk berdiri dan berjalan kembali ke rumah.

Aku masih ingat terus akan senyuman itu. Huh, andaikan aku bisa menggambar atau melukis dengan baik, pasti akan segera kuwujudkan dalam bentuk visual. Sayangnya aku tak bisa. Aku kini hanya menyimpannya dalam benakku saja. Memori awal yang sungguh membahagiakan. Mudah-mudahan saja ini akan menjadi awal yang baik untuk aku mencari petunjuk selanjutnya.

Oh ya, beberapa hari lalu aku sempat membaca tulisan tentang senyuman di posting ini. Tulisan yang membuatku tergerak untuk menyemangati diri dan menatap hari esok dengan lebih optimis.

Iklan


No Responses Yet to “Senyuman Masa Lalu”

  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: