Maaf baru sempat lagi menulis posting. Dua hari sejak posting sebelumnya, aku sebenarnya sudah menemukan jawabannya (eh ini termasuk lama atau sebentar ya?). Lembaran kertas yang kutemukan di laci meja komputerku kan bertuliskan huruf aneh:

χωρίς φόβο

Ini ternyata adalah huruf Yunani. Katanya situs ini sih, cara membacanya chorís fóvo. Atau kalau diartikan dalam bahasa Inggris “without fear” atau “tanpa rasa takut.” Ok, itu aku berhasil mengartikannya. Meski aku bingung apa sih ini maksudnya? Kenapa aku selalu berada di antara orang-orang yang penuh dengan teka-teki?

Misteri lainnya adalah posting dengan password yang berada di sini. Aku terus menerka-nerka. Baik kata “fear”, “takut”, “without fear”, “tanpa takut”, atau “tanpa rasa takut” serta beragam varian lainnya sudah aku coba, namun hasilnya nihil.

Lalu aku kembali berpikir, kalau benar Bu Rufini yang menuliskan posting rahasia ini, tentunya ia sudah membaca tulisan-tulisanku sebelumnya. Ia pasti akan memberikan password yang aku sendiri tahu. Lalu aku ingat akan posting yang aku buat saat libur Idul Adha dulu. Pasti Bu Rufini membaca tulisan ini, dan ia tahu kalau aku suka akan masakannya. Aku coba saja masukkan kata-kata menu makanan yang disajikan Bu Rufini satu persatu.

Akhirnya jawabannya ketemu! Password posting tersebut adalah “puyunghai”!

Aku sudah sangat senang. Aku sudah sangat berharap kalau isi posting bisa menjawab keberadaanku yang penuh misteri di sini. Agghh! Ternyata itu hanya ilusi. Aku langsung bertambah kesal saat membaca isi posting. Isinya cuma gambar karya artwork digital seorang artis Jepang yang bernama Dan Obana. Aku tak pernah kenal dengan orang tersebut. Apakah misteri sesungguhnya dari gambar ini? Siapa pula orang Jepang bernama Dan Obana ini?

*pusing*


Pagi tadi Bu Rufini, istri Pak Joko telah kembali ke Wonosobo. Ibu Rufini berpesan agar aku cepat sembuh. Ia juga mengingatkan agar aku tak lupa membersihkan laci meja komputerku di lantai dua. Hah? Aku bingung, kenapa tiba-tiba si Ibu ini berucap seperti itu? Setahuku ia tak pernah masuk ke ruang komputerku di lantai dua. Sudahlah, aku abaikan rasa bingung itu. Aku hanya berucap terima kasih akan bantuannya, terutama masakan lezatnya.

Aku melihat dari kejauhan Pak Joko mengantar istrinya pergi. Pak Joko izin untuk menemani si istri hingga terminal Lebak Bulus. Aku hanya mengiyakan, tanpa tahu sebenarnya dimana Lebak Bulus. Mungkin tidak jauh dari sini.

Setelah Pak Joko dan Bu Rufini menghilang dari pandanganku, aku pun kembali masuk ke dalam rumah. Seperti setiap harinya, aku ke ruang komputer di lantai dua, untuk kembali mencari berita-berita yang mungkin bisa membantuku mengingat masa laluku. Tiba-tiba aku teringat pesan Bu Rufini, “laci meja komputer.” Langsung saja aku buka laci dan aku menemukan selembar tulisan pendek.

χωρίς φόβο

Apa maksudnya? Bahasa apa pula ini?

Lebih heran lagi adalah, saat aku membuka jurnal blog ini. Ternyata ada orang lain yang membuat posting di jurnal ini tanpa sepengetahuanku. Lihat saja tulisan ini. Aku sendiri tidak bisa membuka posting itu karena aku harus mengetikkan password-nya. Dan aku TIDAK TAHU password-nya!!

Aku jadi berpikir, apakah Bu Rufini yang meninggalkan surat ini? Apakah Bu Rufini juga yang menulis posting tambahan ber-password ini? Aah, nanti sekembalinya Pak Joko ke rumah, aku harus menanyakannya. Kalau memang benar Bu Rufini, lalu siapa dia sebenarnya? Ada hubungankah dengan masa laluku?


Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:


Kalau menurut penanggalan, memang hari Jumat kemarin adalah hari raya Idul Adha. Hari itu dijadikan hari libur nasional Indonesia. Untukku, hari itu tak berbeda dengan hari lainnya. Aku tak kemana-mana. Masih saja berada di rumah atau jalan-jalan di sekitarnya. Pusingku memang sudah mulai hilang, namun aku masih belum berani melangkahkan kaki menjauhi kompleks perumahan di Cinere ini.

Ada sesuatu yang berbeda di hari itu. Pak Joko kedatangan istrinya dari Wonosobo. Namanya Bu Rufini. Rambutnya sudah memutih, namun ia masih tetap terlihat sehat dan bugar. Bu Rufini ini ternyata pandai memasak. Hari itu menjadi hari spesial karena Bu Rufini menyajikan makanan khas hari raya lebaran. Bu Rufini menyebutnya ketupat, opor ayam, dan sambel goreng hati. Entah kenapa disebut dengan kata sambel, kalau tidak ada pedas-pedasnya ya?

Aku sendiri tak ingat apa-apa tentang hari raya ini. Tak membekas sedikitpun tentang kisah yang (mungkin) pernah aku alami di hari raya ini. Aku berterima kasih sekali akan kedatangan Bu Rufini ini. Pak Joko memang lihati kalau urusan perbaikan dan perawatan rumah, tapi kalau urusan masak, bisa kubilang ia sama sekali tak punya bakat. Istrinya bertolak belakang. Bu Rufini sungguh lihai dalam meracik bumbu dan menyajikan makanan.

Di hari sabtu Bu Rufini memasak yang lebih spesial. Karena Pak Joko mendapat jatah potongan daging sapi dan kambing dari mesjid kompleks, maka Bu Rufini lalu memasakkan sate sapi dan sate kambing. Bumbu kecapnya ia buat sendiri. Selain itu, Bu Rufini juga memasakkan telur dadar besar bercampur daging udang. Katanya ini puyunghai, makanan china. Biasanya orang memasaknya dengan daging kepiting, namun karena daging kepiting susah dicari di pasar terdekat, maka Bu Rufini menggantinya dengan udang. Bu Rufini juga membuatkan saus tomat bercampur kacang polong, yang dituangkan ke atas puyunghai. Sungguh luar biasa sedap.

Lalu di hari minggu Bu Rufini menyajikan masakan tradisional. Sayur asem dan teri telur. Pak Joko memang pernah pula memasak sayur asem untukku sebelumnya, tapi tetap saja citra rasanya sangat berbeda. Masakan Bu Rufini terasa lebih pas untuk lidah, sementara kalau sayur asem buatan Pak Joko suka terasa asin atau kadang malah hambar tak berasa.

Wah, menyenangkan seandainya Bu Rufini bisa ada di rumah ini terus. Sayangnya, Bu Rufini harus kembali ke kampungnya di Wonosobo hari Senin pagi esok. Minggu-minggu mendatang, menu makanku akan kembali seperti semula. Resep-resepnya Pak Joko. Hahaha, maaf ya, Pak Joko!


Pak Joko

26Nov09

Aku pernah cerita sebelumnya kalau rumah yang kutinggali di Cinere ini selalu dijaga oleh Pak Joko. Bapak berusia 50-an tahun ini menjaga rumah ini seorang diri, sebelum aku datang. Tak banyak yang aku bisa ceritakan, kecuali ia punya seorang istri dan dua orang anak yang ia tinggal di kampung. Di Wonosobo katanya. Aku nggak terlalu paham nama-nama kota di negeri ini. Aku sempat lihat di peta dan Wikipedia kalau ternyata kota Wonosobo itu cukup jauh juga dari Jakarta.

Aku tak bisa bilang Pak Joko seorang yang rajin, tapi setidaknya rumah ini masih terawat dengan baik. Hahaha, meski tetap saja sih, aku perhatikan di beberapa sudut kamar, debu-debu tebal terlihat menumpuk. Aku sebenarnya tak terlalu memperdulikan itu. Lagi pula rumah ini terlalu besar untuk dihuni oleh kami berdua saja. Banyak ruang kosong, yang akhirnya malah menjadi tempat menyimpan barang-barang tak terpakai.

Satu hal yang selalu kuingat adalah kumis Pak Joko yang sudah memutih. Ia sering sekali melinting-lintingnya seakan-akan kumis itu adalah kunci kekuatannya. Oh ya, meskipun beliau sudah tua, jangan ragukan kekuatan fisiknya. Entah apa yang Pak Joko makan sejak kecil, ia bisa mengangkat sofa seberat 10 kilo seperti bantal kapuk saja.

Pak Joko juga bukan orang yang doyan bercakap-cakap. Ia selalu menjawab seperlunya. Terkadang aku sering merasa kesepian, meski aku tahu Pak Joko ada di ruang duduk menonton televisi. Entahlah, aku merasa ada sesuatu yang disembunyikannya. Ia seakan-akan sengaja menutup diri dan menjaga agar tidak terlalu terlibat denganku. Itu perasaanku saja kah?

Selama lebih dari 6 minggu aku berada di rumah ini, aku bersyukur ada orang seperti Pak Joko. Meski tak banyak berbicara, ia selalu tahu kala sakit kepalaku menyerang. Dengan sigap ia selalu menyediakan aspirin dan minuman susu hangat untuk membantuku beristirahat dengan tenang. Pak Joko selalu sedia menjawab (meski sepotong-sepotong) kalau aku kebingungan dalam menggunakan berbagai perangkat di rumah ini. Ia sepertinya memaklumi keberadaanku yang amnesia ini dan tak pernah memaksaku untuk mengingat segala sesuatu (yang jelas-jelas aku lupa).

Oh ya, Pak Joko nggak suka fotonya diambil. Jadi aku edit sedikit foto ini supaya wajah Pak Joko nggak terlihat jelas.


Terima kasih kepada Hanny dan Tikabanget yang sudah membantuku menerjemahkan surat misterius ini. Aku sebenarnya jadi bertanya-tanya, apakah Hanny yang memberikan jawaban ini sama atau tidak dengan Bu Hanny yang juga mengirimkan surat misterius ini? Ataukah kalian orang yang berbeda?

Isi suratnya adalah sebagai berikut. Aku salin ulang dari jawaban Hanny dan Tikabanget.

Hai, Anil!

Aku berharap kamu sudah beristirahat cukup setelah perjalanan panjang kamu mengarungi waktu. Aku hanya mengingatkan kalau kamu bisa tinggal di rumah ini sampai kapanpun kamu mau. Kamu tak usah pikirkan tentang biayamu di masa kini. Semua sudah aku siapkan. Aku akan kirimkan email untuk titik pengambilan kartu, buku tabungan, dan perlengkapan khusus untukmu.

Terima kasih.

Hanny.

Apa maksud dari kata “mengarungi waktu”? Email apa ya? Aku baru saja mencek, namun tak ada email apapun dari seseorang yang bernama Hanny. Ah, misteri baru lagi. Mudah-mudahan sakit kepalaku tak akan muncul lagi hanya karena teka-teki baru ini.


Surat Misterius

24Nov09

Hari minggu kemarin aku menerima sebuah surat dari Bu Hanny dari Bogor, si pengontrak rumah yang kuhuni di Cinere ini. Pak Joko, si penunggu rumah, yang menemukan surat ini terselip di pagar rumah. Suratnya membuatku bingung karena aku tak mengerti sama sekali maksudnya. Sudah berulang kali aku baca surat itu, masih saja aku tak paham. Aku heran siapa sih Bu Hanny ini? Sedemikian misteriusnya dan rahasianya ia sampai harus mengirimkan surat dalam bahasa kode.

Aku salinkan suratnya di sini. Mudah-mudahan rekan pembaca ada yang bisa membantuku menerjemahkannya. Aku sih berharap ada sesuatu yang bisa memberiku jawaban akan keberadaanku di sini.

Hai, Anil!

Rxd snaqrarg xrzd bdurq snavbcvarqrc tdxdg bncnyrq gnawryrere grewrep xrzd znepradepv jrxcd. Rxd qrelr znepveprcxre xryrd xrzd svbr cveppry uv adzrq vev brzgrv xrgregde xrzd zrd. Xrzd crx dbrq gvxvaxre cnecrep svrlrzd uv zrbr xvev. Bnzdr bdurq rxd bvrgxre. Rxd rxre xvavzxre nzrvy decdx cvcvx gneprzsvyre xracd, sdxd crsdepre, ure gnaynepxrgre xqdbdb decdxzd.

Terima kasih.

Hanny.

AARGGH!! Pusing kan?

Aku duga setiap huruf ini mewakili huruf lainnya dalam 26 karakter abjad. Hanya saja huruf apa yang mewakili apa ya?


Info ini kutemukan di Wikipedia, yang rasanya amnesia seperti inilah yang saat ini menimpaku.

Retrograde amnesia is a form of amnesia where someone will be unable to recall events that occurred before the development of amnesia. The term is used to categorise patterns of symptoms, rather than to indicate a particular cause or etiology. Retrograde amnesia is caused by trauma that results in brain injury. Critical details of the physical changes in the brain that cause retrograde amnesia are still unknown. Retrograde amnesia is often temporally graded, meaning that remote memories are more easily accessible than events occurring just prior to the trauma (Ribot’s Law). Events nearest in time to the event that caused memory loss may never be recovered.

Ini artinya seharusnya aku akan lebih mudah mengingat kejadian-kejadian di masa lampau, dan aku akan bisa sama sekali tidak ingat apapun yang menimpaku beberapa saat sebelum aku terkena amnesia. Kemarin aku sempat bercerita tentang senyuman seorang perempuan manis. Selain itu aku juga beberapa kali mendapat kilasan-kilasan tentang suasana yang pernah aku alami.

Aku melihat kilasan sebuah kota dengan gedung-gedung pencakar langit. Meski banyak sekali gedung, aku masih bisa melihat taman tempat orang berkumpul. Taman dan kolam yang menjadi oasis dari padatnya populasi kota. Orang-orang berjalan berlalu lalang di tengah kota Jakarta? Agak aneh, karena kilasan ini sama sekali berbeda dengan kondisi kota Jakarta saat ini. Entahlah.

Aku sempat pula melihat kilasan cahaya yang bermunculan di langit, meski aku tak ingat cahaya apakah itu, dan apa yang menyebabkannya. Ingatan ini terpicu saat aku melihat video di YouTube tentang munculnya cahaya berbentuk lingkaran sempurna di langit di kota Moskow. Ada sesuatu yang familiar dari video itu.

Aku hanya berharap Retrograde Amnesia ini hanya bersifat sementara saja. Aku tetap saja was-was. Sudah lebih dari 6 minggu berlalu, tapi memori yang kuingat hanya sedikit. Itu pun terasa berbayang, serasa aku baru saja mengingat suatu kejadian yang terjadi di alam mimpi.


Satu hal yang mudah didapat saat aku sudah membiasakan diri dengan peralatan komputer di rumahku adalah informasi. Seperti aku cerita sebelumnya, kalau aku merasakan ada sesuatu yang kuno atau usang dari komputer yang aku pakai, meski terus terang aku tak tahu kenapa aku bisa bilang seperti itu. Perasaan aneh seperti ada sesuatu yang salah itu selalu muncul saat aku menggerakkan mouse menjejahi informasi di beragam halaman web internet.

Begitu banyaknya informasi tersebar dan mudah diakses. Semuanya saling terkait dan melengkapi. Setiap kali aku terkoneksi dengan internet, aku selalu berharap akan muncul memori-memori baru yang terpendam. Mungkin memori yang terpicu saat aku melihat suatu gambar atau video, atau membaca sesuatu di sebuah situs.

Yang lucu adalah saat aku mencoba meregister sebuah alamat email, baik itu di Google maupun Yahoo. Aku tak ingat sama sekali tanggal lahirku. Aku tak ingat asalku. Hahaha, jadi aku pun akhirnya menetapkan sendiri tanggal ulang tahunku (setidaknya sampai aku ingat tanggal sebenarnya). Aku memasukkan tanggal 11 September 1980, sesuai tanggal yang tertera di kartu identitasku (entah ini benar atau tidak).

Setiap informasi yang kuanggap relevan atau setidaknya mungkin yang bisa membantu memicu memori aku simpan semuanya di Tumblr. Anggaplah ini sebagai alat untuk mengkoleksi semua pecahan informasi yang (mungkin) relevan dengan hilangnya memoriku.

Oh ya, terkadang aku pun menyimpan tautan laman web yang memang pula menarik. Saat ini mungkin belum banyak, tapi sambil berjalan, aku rasa aku akan bisa menemukan jawaban hilangnya memoriku ini melalui beragam bacaan yang aku kumpulkan di sini.


Kemarin aku janji untuk menceritakan memori yang pertama kali kuingat. Ini terjadi sekitar 3 minggu lalu, aku lupa tepatnya hari apa. Aku cuma ingat saat itu untuk pertama kalinya aku berjalan mengelilingi area tempatku tinggal. Selama 3 minggu pertama itu aku memang tidak pernah menapakkan kaki ke luar dari rumah. Seperti aku ceritakan di posting sebelumnya, aku hanya tidur, menonton televisi, dan mempelajari (ulang) hal-hal yang aku rasa sudah aku lupakan.

Jadi saat itu sekitar pukul 10 pagi. Matahari bersinar terik. Aku membuka pagar rumah dan berjalan-jalan menyusuri jalan setapak yang berada sekitar 200 meter dari pertokoan yang berada di depan rumah. Aku terus mengikuti jalan setapak yang lalu membawaku ke sebuah taman. Di sini pohon-pohon dengan daunnya yang hijau memberikan suasana menyegarkan. Aku duduk di salah satu bangku tua di tepi taman. Beberapa ibu terlihat mengobrol di salah satu sudut taman. Tak banyak orang memang.

Aku merasakan sesuatu yang familiar saat itu. Hembusan angin yang mengusik daun pepohonan, burung-burung yang lewat dari puncak pohon ke puncak pohon lainnya. Udara yang bersih. Tidak persis sama, tapi entah ada hal yang mirip dengan yang pernah kurasakan sebelumnya. Aku menyandarkan kepalaku ke sandaran bangku, memejamkan mata, dan tiba-tiba aku ingat sesuatu.

Aku ingat suatu kejadian yang berlangsung singkat. Wajah seorang perempuan. Ia tersenyum manis. Wajahnya sangat menarik. Rambutnya lurus panjang sebahu. Ia mengenakan kaos warna merah muda. Yang paling aku ingat adalah tatapan mata dan caranya tersenyum. Aku merasakan kecerdasan sekaligus perhatian yang tinggi terpancar dari bola matanya yang berwarna coklat muda. Senyumannya entah kenapa, aku suka sekali akan cara bibirnya bertemu, seakan-akan ia adalah orang yang paling ramah dan perhatian yang pernah aku temui.

Namun itu saja yang kuingat. Aku tak tahu di mana perempuan itu. Aku tak ingat siapa namanya. Aku tak ingat apapun selain momen singkat itu. Sakit kepala luar biasa kembali menyerangku setelah itu. Aku pun menguatkan diri untuk berdiri dan berjalan kembali ke rumah.

Aku masih ingat terus akan senyuman itu. Huh, andaikan aku bisa menggambar atau melukis dengan baik, pasti akan segera kuwujudkan dalam bentuk visual. Sayangnya aku tak bisa. Aku kini hanya menyimpannya dalam benakku saja. Memori awal yang sungguh membahagiakan. Mudah-mudahan saja ini akan menjadi awal yang baik untuk aku mencari petunjuk selanjutnya.

Oh ya, beberapa hari lalu aku sempat membaca tulisan tentang senyuman di posting ini. Tulisan yang membuatku tergerak untuk menyemangati diri dan menatap hari esok dengan lebih optimis.




Klik tertinggi

  • Tidak ada